MAKALAH
MATA
KULIAH FILOSOFI DAN LANDASAN PENDIDIKAN
“LANDASAN
BIOLOGI PENDIDIKAN DAN LANDASAN SOSIAL BUDAYA PENDIDIKAN”
KELOMPOK
8

DISUSUN OLEH:
Ø DANITA
FIRDAYANA (1888203052)
Ø PEBRI
YUNI Br HUTABARAT (1888203024)
DOSEN: MUSTAKIM JM,
M.Pd
PROGRAM
STUDI BAHASA INGGRIS
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
LANCANG KUNING
2018
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami haturkan kepada ALLAH SWT yang mana telah mencurahkan nikmat dan
karunia-Nya, sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini yang
berjudul “Landasan biologi pendidikan
dan landasan sosial budaya pendidikan “ dengan sebaik-baiknya.
Tidak lupa pula shalawat bersampulkan
salam kami sanjungkan kepada junjungan alam yakni nabi besar Muhammad saw yang
telah membawa umatnya dari masa jahiliyah ke masa cerdas dan modern yang kita
rasakan sampai saat ini.
Kami
mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dosen
pengajar Mustakim JM, M.Pd yang
telah memberikan pengarahan dalam
hal-hal yang bersangkutan dengan makalah ini.
Kami
menyadari bahwa makalah ini masih bersifat sederhana. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran dosen untuk memperbaiki makalah ini agar bisa
menjadi sumber belajar bagi kami dan pembaca pada umumnya.
Demikian pengantar kata kami ucapkan. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan pembaca.
Pekanbaru,
12 Oktober 2018
i
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR......................................................................... . i
DAFTAR ISI......................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
belakang masalah.................................................................... 1
B. Rumusan
masalah.............................................................................
2
C. Tujuan
penulisan............................................................................... 2
D. Manfaat
penulisan............................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Landasan biologi pendidikan........................................................... . 3
B.
Landasan sosial budaya pendidikan................................................. . 13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan....................................................................................... 25
B. Saran................................................................................................. 25
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang masalah
Ilmu
pendidikan memerlukan landasan keilmuan karena pendidikan dapat dijadikan suatu
langkah awal untuk mengarahkan, serta menjadi pilar utama di dalam pengembangan
manusia demi tercapainya cita-cita bangsa. Landasan keilmuan juga sebagai
pemberi dukungan untuk perkembangan masyarakat. Dalam mengupayakan pendidikan,
lembaga pendidikan dan pendidik harus senantiasa bekerjasama dalam
memfasilitasi apa-apa saja yang dibutuhkan oleh peserta didik atau masayarakat
agar proses pendidikan dapat berjalan sesuai tujuan yang diharapkan. Fasilitas
yang diberikan bukan hanya sekedar alat pembantu dalam proses belajar mengajar,
tetapi fasilitas ilmu pengetahuan lebih diperhatikan untuk menunjang generasi
yang cerdas dan bermartabat sesuai kodrat yang semestinya dimiliki oleh setiap
manusia. Di dalam landasan pendidikan ada yang dinamakan dengan landasan
biologi pendidikan dan landasan sosial budaya pendidikan.
Landasaan
biologi pendidikan merupakan landasan yang banyak memiliki unsur biologisnya.
Landasan ini penting bagi peserta didik atau masyarakat karena pendidikannya
mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan manusia secara ilmu biologi.
Di
kehidupan masyarakat terdapat struktur sosial dan kebudayaan yang menjadi
landasan masyarakat yang di dalamnya terjadi unsur pendidikan. Hal ini terjadi
karena masyarakat perlu adanya pendidikan untuk mempelajari suatu struktur
sosial dan budaya yang menjadi ciri khas dari suatu masyarakat itu sendiri. Landasan
pendidikan akan menjadi titik tolak dalam menetapkan tujuan pendidikan, memilih
isi pendidikan, dan memilih cita-cita pendidikan.
1
B. Rumusan
masalah
a. Bagaimana
landasan biologi pendidikan?
b. Bagaimana
landasan sosial budaya pendidikan?
C. Tujuan
penulisan
a. Untuk
menjelaskan landasan biologi pendidikan
b. Untuk
menjelaskan landasan sosial budaya pendidikan
D. Manfaat
penulisan
a. Agar
mengetahui landasan biologi pendidikan
b. Agar
mengetahui landasan sosial budaya pendidikan
2
BAB
1I
PEMBAHASAN
A. Landasan
biologi pendidikan
1.
Sejarah landasan
biologi pendidikan
Istilah
biologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas dua kata yakni, “bio” dan
“logia”. “Bio” berarti kehidupan sedangkan “logia” berati ilmu. Bentuk latin
dari kata tersebut (biologi), biologi pertama kali digunakan oleh Linnaeus
(Carl Von Linne) dalam
karyanya yang berjudul Bibliotheca botanica pada tahun 1736. Kata
tersebut dipakai lagi pada tahun 1766 oleh Michael Christoph Hanov dalam
tulisannya yang berjudul Philosophiae naturalis sive physicae: tomus III,
continens geologian, biologian, phytologian generalis. Terjemahan bahasa
Jermannya, yaitu Biologie, pertama kali muncul dalam terjemahan karya
Linnaeus pada tahun 1771. Pada tahun 1797, Theodor Georg August Roose
menggunakan istilah tersebut dalam pendahulu bukunya yang bertajuk Grundzuge
der Lehre van der Lebenskraft.
Karl
Friedrich Burdach pada tahun 1800 memakai istilah ini dalam arti yang lebih
sempit, yaitu penelitian manusia dari sudut pandang morfologis/pengetahuan
tentang bentuk, fisiologis/sistem kehidupan, dan psikologis/proses mental (Propadeutik
zum Studien der gesammten Heilkinst). Istilah biologi dalam pengertian
modern baru muncul dalam buku Biologie, oder philosophie der lebenden Natur (1802-1822)
yang ditulis oleh Gottfried Reinhold Treviranus. Di dalam buku tersebut tertulis:
“Objek penelitian kami
adalah berbagai macam bentuk dan perwujudan kehidupan, keadaan dan hukum yang
mengatur fenomena tersebut, serta penyebabnya. Ilmu yang terkait dengan objek
tersebut kami sebut biologi [Biologie] atau doktrin kehidupan [Lebenslehre].
3
Walaupun biologi modern merupakan perkembangan yang
relatif baru, ilmu yang terkait sudah dipelajari dari masa lampau. Filsafat
alam dapat ditemui di peradaban yang berada di daerah Mesopotamia, Mesir,
India, Tiongkok.
Namun, asal usul dan
pendekatan biologi modern berasal dari masa Yunani Kuno. Walaupun penelitian
kedokteran dapat dilihat dengan teliti dari masa Hippocrates (ca. 460 SM –ca. 370 SM), Aristoteles (384 SM –
322 SM) adalah tokoh yang paling berjasa dalam mengembangkan biologi. Salah
satu karya terpentingnya adalah Historia Animalium, dan beberapa karya lain
yang menunjukkan cara pandang seorang peneliti alam, serta karya-karya
empirisnya yang mencoba mempelajari sebab-akibat biologis, dan keanekaragaman
hayati.
Biologi
mulai berkembang pesat setelah Antony van Leeuwenhoek memperbaiki mikroskopnya.
Berkatnya, spermatozoa (sel sperma), bakteri, infusoria (istilah kolektif
makhluk hidup yang ada di dalam kolam air tawar, seperti protozoa), dan
berbagai macam kehidupan mikroskopik lain berhasil ditemukan. Penyelidikan yang
dilakukan oleh Jan Swammerdam membangkitkan ketertarikan terhadap bidang
entomologi, dan membantu mengembangkan teknik pembedahan, dan pewarnaan
mikroskopik.
Kemajuan
mikroskop juga sangat mempengaruhi pemikiran tentang biologi. Pada awal abad
ke-19, sejumlah ahli biologi mulai menyadari pentingnya konsep sel. Kemudian,
pada tahun 1838, Schleiden, dan Schwann mulai menganjurkan gagasan (yang kini
diterima secara luas) bahwa (1) satuan
dasar organisme adalah sel, (2) masing-masing sel memiliki karakteristik kehidupan,
walaupun mereka menentang gagasan bahwa (3) semua sel berasal dari pembagian
sel lain. Akan tetapi, berkat karya Robert Remak, dan Rudolf Virchow (1860-an)
sebagian besar ahli biologi menerima ketiga hal tersebut yang kini disebut
teori sel.
4
Pada
tahun 1940-an, dan awal tahun 1950-an, penelitian berhasil membuktikan bahwa DNA
merupakan komponen kromosom yang mengandung satuan pewarisan yang kini disebut
gen. Pemusatan perhatian pada model organisme baru seperti virus, dan bakteri
serta penemuan struktur untai ganda DNA pada tahun 1953 menandai jalannya
peralihan ke masa genetika molekuler. Kode genetik berhasil dipecahkan oleh Har
Gobind Khorana, Robert W. Holley, dan Marshall Warren Nirenberg setelah
memahami bahwa DNA mengandung kodon. Akhirnya, proyek Genom Manusia
(keseluruhan DNA yang memuat informasi genetik) diluncurkan pada tahun 1990
dengan tujuan untuk memetakan semua Genom Manusia (DNA). Proyek ini selesai
pada tahun 2003, dan merupakan langkah pertama dalam menggabungkan pengetahuan
biologi dengan definisi tubuh manusia, dan organisme lain secara fungsional,
dan molekuler.
2.
Pengertian landasan
biologi pendidikan
Di
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah landasan diartikan sebagai alas,
dasar, atau tumpuan. Adapun istilah landasan sebagai dasar di kenal pula
sebagai fundasi. Mengacu pada pengertian tersebut, kita dapat memahami bahwa
landasan adalah suatu alasan atau dasar pijakan dari suatu hal tempat
berdirinya sesuatu itu. Sedangkan biologi adalah ilmu yang mempelajari makhluk
hidup serta proses kehidupan dari faktor biologi, manusia dan hewan memiliki
kesamaan karakteristik, namun ada perbedaannya yaitu manusia memiliki potensi
superior yang membedakannya dengan makhluk lain. Jadi berdasarkan pemikiran di
atas dapat di simpulkan bahwa landasan biologi pendidikan adalah asumsi-asumsi
yang bersumber dari kaidah-kaidah biologi yang dijadikan titik tolak dalam
pendidikan.
5
Contoh:
“ Dibanding dengan
hewan, manusia memiliki otak yang lebih besar sehingga ia mampu berpikir “.
Implikasinya, manusia memungkinkan untuk dididik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia asumsi
yaitu dugaan yang diterima sebagai dasar landasan berpikir karena dianggap
benar. Potensi superior adalah kemampuan mental, kecerdasan, akal budi atau
daya pikir yang paling sempurna yang semuanya berada dalam otak.
Ada tiga arti biologi
bagi pendidikan menurut Home, yaitu:
Otak
manusia telah dibentuk sejak triwulan kehamilan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa
saat dalam kandungan, otak mempunyai ukuran yang lebih besar dibandingkan
dengan organ tubuh yang lain. Pertumbuhan dan perkembangan sel syaraf pusat
pada otak berlangsung sangat pesat pada awal-awal pertumbuhan.
Pada
usia 6 atau 7 tahun otak anak hampir mencapai proporsi orang dewasa, berat
otaknya bertambah lebih dari tiga kali lipat dibandingkan berat ketika lahir.
Menurut Mc. Crone bahwa
bertambahnya jumlah sel-sel otak pada manusia karena disebabkan adanya
penundaan proses pelapisan protein lemak, yang membungkus semua jaringan
syaraf. Penundaan proses itu membuat
anak fleksibel dalam belajar melihat, merasa,
mendengar, dan berpikir. Pada anak manusia penundaan ini sangat lama jika
dibandingkan dengan anak hewan.
Hewan
dan manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang dibedakan menjadi dua
periode, yaitu periode prenatal ( terjadi sebelum kelahiran) dan periode
pascanatal (setelah kelahiran).
6
a.
Periode prenatal
Setelah
fertilisasi/pembuahan maka terbentuk zigot yang masih berupa satu sel, kemudian
zigot akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Zigot akan membelah
sedemikian rupa hingga membentuk tiga lapisan embrionik yang merupakan cikal
bakal pembentukan organ pada hewan. Masa prenatal hewan berkembang di dalam
atau di luar tubuh induk. Jika berkembang di dalam tubuh induk asupan makanan
langsung disuplai oleh induk melalui hubungan induk-embrio. Sedangkan jika
berkembang di luar tubuh induk maka embrio dibekali cadangan makanan sebagai
suplai nutrisi.
Tiga lapisan embrionik
tersebut ialah: ektoderm (bagian terluar dari tiga lapisan massa sel yang
muncul di awal perkembangan embrio), mesoderm (sel-sel yang berada pada lapisan
tengah saat fase embrionik dalam perkembangan makhluk hidup), dan endoderm
(salah satu lapisan germinal yang terbentuk selama embriogenesis hewan).
Setelah terbentuk organ
lengkap, embrio masih akan terus mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan
untuk pematangan fisik embrio sampai waktu yang telah ditentukan sampai keluar
dari cangkang atau dilahirkan dari tubuh induk.
b.
Periode pascanatal
Masa
pascanatal terjadi ketika embrio telah dilahirkan ke bumi. Pertumbuhan dan
perkembangan terjadi dengan pertambahan ukuran dan kematangan organ reproduksi.
Berpikir
adalah memanipulasi data, fakta dan informasi untuk membuat keputusan
berprilaku. Aktivitas mental dalam perasaan dan pemahaman bergantung pada
perangsangan dari luar dan dalam, yang disebut dengan sensasi dan atensi.
7
3.
Dasar biologi modern
Menurut
teori sel, sel merupakan satuan dasar kehidupan, dan semua kehidupan yang
terdiri atas satu atau lebih produk sel yang disekresikan. Sel juga dianggap
sebagai satuan dasar dalam proses patologis (bidang kedokteran yang berkaitan
dengan ciri dan perkembangan penyakit melalui analisis keadaan bagian tubuh),
dan fenomena aliran energi yang terjadi di sel sebagai bagian dari proses metabolisme.
Selain itu, sel mengandung satuan pewarisan yang diwariskan dari satu sel ke
sel lain selama proses pembelahan sel.

Seleksi
alam suatu populasi
Salah
satu konsep penting dalam biologi adalah konsep bahwa kehidupan berubah melalui
mekanisme evolusi, dan semua organisme punya nenek moyang bersama. Berdasarkan
teori evolusi, semua organisme di bumi, baik yang masih hidup maupun yang sudah
punah berasal dari satu nenek moyang bersama. Nenek moyang bersama terakhir
diyakini muncul sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu.
8
Ahli biologi biasanya
memandang keseragamaan kode genetik sebagai bukti yang mendukung teori nenek
moyang bersama semua bakteri, archaea, dan eukariot.
Walaupun diperkenalkan
dalam kamus ilmiah oleh Jean-Baptiste de Lamarck (1809), evolusi baru
dikukuhkan sebagai teori ilmiah 50 tahun kemudian oleh Charles Darwin dengan
menjelaskan mekanisme pendorongnya: seleksi alam (Alfred Russel Wallace juga
diakui sebagai salah satu penemu evolusi karena ia membantu penelitian, dan
percobaan yang terkait dengan konsep ini). Darwin menjelaskan bahwa spesies,
dan ras berkembang melalui proses seleksi alam, dan seleksi buatan atau
pengembangbiakkan selektif. Hanyutan genetik dianggap sebagai mekanisme
tambahan dalam sistesis modern teori evolusi. Evolusi kini digunakan untuk
menjelaskan keanekaragaman kehidupan di bumi.

Persegi
Punnett yang menggambarkan persilangan anatara dua tanaman
Gen
adalah satuan pewarisan utama semua organisme. Gen merupakan bagian dari DNA
yang memengaruhi bentuk atau fungsi organisme. Semua organisme, dari bakteri
hingga hewan memiliki mekanisme yang mentranslasi DNA menjadi protein.
9
Kode translasi semua organisme
pada dasarnya sama. DNA biasanya berbentuk kromosom linear dalam eukariota
(organisme dengan sel yang memiliki nukleus dan organel bermembran lainnya),
dan kromosom lingkaran dalam prokariota (makhluk hidup yang tidak memiliki
membran inti sel). Kromosom adalah struktur yang terdiri dari DNA, dan histon
(protein yang ditemukan pada inti sel eukariota yang terbungkus DNA) informasi
genetik dalam sebuah genom disimpan dalam gen, dan himpunan informasi tersebut
dalam suatu organisme disebut genotip.

Sistem
kerja hipotalamus
Homeostasis
adalah kemampuan suatu sistem terbuka dalam mengatur stabilitas lingkungan
dengan melakukan penyesuaian keseimbangan dinamika yang diatur oleh mekanisme
pengaturan yang terkait. Semua organisme baik uniseluler (organisme bersel
satu) maupun multiseluler (organisme banyak sel) mengalami homeostasis. Untuk
menjaga keseimbangan dinamika, dan melakukan fungsi tertentu secara efektif,
suatu sistem harus melacak, dan menanggapi gangguan.
10
Setelah melacak
gangguan, sistem biologis biasanya menanggapi melalui proses umpan balik
negatif. Artinya, sistem tersebut menstabilkan keadaan dengan mengurangi atau
meningkatkan aktivitas suatu organ atau sistem. Contohnya adalah pelepasan
glukagon ketika kadar gula dalam tubuh terlalu rendah.

Skema
yang menggambarkan proses energi dalam tubuh manusia
Keberlangsungan
organisme bergantung pada masuknya energi secara terus-menerus. Reaksi kimia
yang membentuk struktur, dan fungsi tertentu dapat mengambil energi dari suatu
substansi yang menjadi makanannya untuk membantu membentuk, dan mempertahankan
sel baru. Dalam proses ini, molekul bahan kimia yang menjadi makanan memainkan
dua peran, yaitu: makanan tersebut mengandung energi yang dapat diubah untuk
mendukung reaksi kimia biologis, makanan tersebut mengembangkan struktur
molekuler baru.
11
Organisme
yang berperan dalam menghantarkan energi ke suatu ekosistem disebut autotrof.
Hampir semua organisme autotrof memperoleh energi dari matahari. Tumbuhan
menggunakan energi matahari melalui proses fotosintesis yang mengubah bahan
baku menjadi molekul oraganik. Beberapa energi yang diperoleh digunakan untuk
menghasilkan biomassa yang dapat mempertahankan kehidupan, dan mendukung
pertumbuhan, dan perkembangan.
4.
Cabang-cabang biologi
12
B.
Landasan sosial budaya pendidikan
Sosial budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat dengan
kehidupan sehari-hari. Setiap kegiatan manusia hampir tidak pernah lepas dari
unsur sosial budaya. Sosial mengacu kepada hubungan antarindividu,
antarmasyarakat, dan individu dengan masyarakat. Aspek sosial ini merupakan
aspek individu secara alami, artinya aspek itu telah ada sejak manusia
dilahirkan. Budaya mengacu tentang apa yang dikerjakan dan cara mengerjakannya
serta bentuk yang diinginkan. Sama halnya dengan aspek sosial, aspek budaya
sangat berperan dalam proses pendidikan. Malah dapat dikatakan tidak ada pendidikan
yang tidak dimasuki unsur budaya.
Pendidikan dalam penyelenggaraannya juga berlandaskan pada landasan
sosial. Landasan sosial pendidikan menekankan pada pendidikan dalam prosesnya
memperhatikan kondisi dan proses sosial yang terjadi di suatu masyarakat
ataupun sebuah bangsa. Kondisi sosial suatu masyarakat akan mempengaruhi
penyelenggaraan bidang pendidikan, seperti proses pembelajaran, pengembangan
kurikulum, dan pola kerjasama sekolah dengan masyarakat. Landasan sosial
pendidikan mencakup kekuatan sosial masyarakat yang selalu berkembang dan berubah
sesuai dengan perkembangan zaman. Kekuatan tersebut dapat berupa kekuatan nyata
dan potensial yang berpengaruh dalam perkembangan pendidikan dan sosial budaya
seiring dengan dinamika masyarakat.
Dasar sosial pendidikan mengkaji kondisi sosial dan pendidikan
berdasarkan prinsip pemecahan masalah secara ilmiah dan berdasarkan nilai
demokrasi. Kajian sosial pendidikan mengkombinasikan konsep, instrumen, dan
metode dari ilmu sosial dan filsafat untuk membentuk kajian terpadu tentang asal usul, tujuan, dan fungsi lembaga
pendidikan dalam suatu masyarakat.
13
Manan
(1989:5) mengemukakan sebuah program pendidikan mencerminkan kehidupan dan
kondisi suatu masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari aspek sosial budaya,
sejarah, dan filosofi yang semuanya memberi arah dalam bidang pendidikan.
Kajian mengenai dasar sosial dan budaya dari pendidikan bertujuan untuk
membekali guru dengan pengetahuan yang mendalam tentang masyarakat dan
kebudayaan di mana mereka hidup dan untuk membantu calon guru untuk mengetahui
bahwa pengertian mengenai masyarakat dan kebudayaan sangat penting artinya guna
memahami tentang masalah pendidikan.
Kajian sosial budaya menghubungkan pengetahuan tentang masyarakat dan
kebudayaan dengan pendidikan sebagai institusi untuk memelihara kesinambungan
dan pengembangan masyarakat dan kebudayaan. Sekolah harus memahami isu dan
masalah sosial budaya dalam masyarakat terutama yang berkaitan dengan perubahan
sosial budaya yakni modernisasi. Pemahaman tentang sosial budaya dan proses
perubahan sosial budaya diharapkan sekolah dapat mempertahankan dan
meningkatkan fungsinya sebagai agent of change dan membentuk
generasi yang berkualitas. Suatu masyarakat dibentuk oleh sekumpulan orang,
cara-cara mereka bertingkah laku merupakan kebudayaan mereka.
14
Kajian
konsep sosial budaya akan terfokus pada pembahasan:
1.
Karakteristik sosial
budaya pendidikan
Potensi
yang dimiliki manusia yaitu otak mampu menghasilkan kebudayaan, hasil dari
potensi yang tercermin dari berbagai hasil manusia merupakan sumber pembentukan
kebudayaan. Kebudayaan merupakan pengalaman universal manusia, manifestasi
lokal dan regionalnya bersifat unik. Sosial budaya bersifat terus menerus dan
tetap. Koentjaraningrat (1974) mengemukakan bahwa kebudayaan memiliki
unsur-unsur yang universal yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem ekonomi,
organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem religi, dan sistem kesenian.
Bentuk manifestasi dari unsur-unsur sosial budaya berbagai masyarakat bersifat
unik.
Semua
masyarakat memiliki unsur budaya bahasa tetapi tidak ada dua bahasa yang
identik sama. Masing-masing kebudayaan memiliki kekerabatan dan persamaan
tetapi tidak identik. Keragaman atau keunikan dari unsur-unsur sosial budaya
terbentuk karena adanya keragaman lingkungan dan sejarah perkembangan suatu
masyarakat. Kebudayaan bersifat stabil dan dinamis. Unsur-unsur sosial budaya
biasanya bertahan dan stabil untuk suatu periode waktu tertentu, tetapi kontak
budaya dan perubahan lingkungan mempengaruhi terjadinya perubahan budaya
(enkulturasi dan akulturasi). Pendidikan memegang peranan penting dalam
perubahan sosial budaya manusia. Sosial budaya membentuk karakter suatu
masyarakat.
15
Berdasarkan
kajian tentang sosial budaya, Murdock (2015) mengidentifikasi
karakteristik kebudayaan yang bersifat universal, yaitu:
Konsep
budaya multikultural merupakan suatu ideologi yang mengkaji perbedaan budaya,
mengakui, dan mendorong pluralisme budaya sebagai suatu corak kehidupan
masyarakat (Zubaedi, 2005:61). Multikultural akan menjadi pemersatu yang
mengakomodasi perbedaan dalam masyarakat yang heterogen. Antar individu hidup
berdampingan dalam kesetaran derajat politik, dan hukum.
16
Prinsip
multikultural dapat dijadikan sebagai strategi dan pendekatan dalam
pengembangan kurikulum karena disesuaikan dengan kondisi budaya daerah.
Relevansi antara kurikulum dan sosial budaya dijadikan pedoman dalam penyusun
kurikulum sehingga pelaksanaannya diharapkan dapat mengembangkan potensi
peserta didik dan potensi daerah.
Kebudayaan
bersifat stabil tetapi dapat berubah, perubahan diukur dari elemen yang relatif
stabil dan stabilitas diukur dari elemen budaya yang berubah dengan cepat.
Beberapa kebudayaan bersifat fleksibel dari yang lain, menyesuaikan diri
terhadap perubahan yang cepat tanpa mengalami disintegrasi. Beberapa aspek
kebudayaan relatif lebih reseptif terhadap perubahan dibandingkan dengan aspek
yang lain. Teknologi berubah dengan cepat dibandingkan dengan nilai-nilai,
namun demikian tidak ada nilai dan ideologi yang secara keseluruhan tetap
bersifat statis.
2.
Transmisi sosial budaya
pendidikan
Kajian
sosial budaya pendidikan dari masa ke masa mengalami perubahan secara
terminologis (peristilahan). Istilah tersebut mencakup enkulturasi
(pembudayaan), sosialisasi (pemasyarakatan), pendidikan, dan sekolahan. Istilah
tersebut sangat penting dikaji dalam pendidikan karena berguna untuk
menjelaskan gejala yang terjadi dalam bidang pendidikan. Herskovits (1964)
mengemukakan bahwa enkulturasi dan sosialisasi memiliku hakikat yang sama,
aspek-aspek dari pengalaman belajar yang memberi ciri khusus atau yang
membedakan manusia dari makhluk lain, dan dengan menggunakan pengalaman
kehidupan maka manusia memperoleh kompetensi dalam kebudayaannya.
17
Enkulturasi
merupakan proses pembiasaan secara sadar atau tidak sadar yang dilakukan dalam
batas yang dijinkan secara norma oleh suatu kebudayaan. Proses enkulturasi
bersifat kompleks dan berlangsung seumur hidup dan tiap tahap kehidupan
memiliki perbedaan dalam hal objek budaya yang dialami. Fungsi enkulturasi
adalah mempengaruhi perubahan respons individu terhadap perilaku budaya yang
secara sosial disetujui sehingga menghasilkan tingkah laku kehidupan yang
berbudaya. Tiap individu memiliki serangkaian mekanisme perilaku yang diwarisi
dan dapat berubah karena pengaruh budaya masyarakat. Perilaku individu dipengaruhi
oleh sosial budaya masyarakatnya.
Kesamaan
konsep enkulturasi dengan konsep sosial tercermin pada sosialisasi menunjukkan
proses pengintegrasian individu ke dalam sebuah kelompok sosial sedangkan
enkulturasi adalah proses yang menyebabkan individu memperoleh kompetensi dalam
kebudayaan kelompok. Enkulturasi dan sosialisasi mengandung unsur nilai, pola
bertingkah laku, dan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang diperlukan oleh
individu untuk dapat berfungsi sebagai anggota suatu masyarakat yang mendukung
kebudayaan. Hansen (1979:28-29) mengemukakan education is part from
enkulturasi that is intentional effort and has systematic to submit know-how
and erudition, habit thinks, and comport that demanded must has by students.
Pendidikan merupakan bagian dari enkulturasi yaitu usaha yang disengaja dan
bersifat sistematis untuk menyampaikan keterampilan dan pengetahuan, kebiasaan
berpikir, dan bertingkah laku yang dituntut harus dimiliki oleh para peserta
didik.
18
3.
Hubungan sosial budaya
dengan pendidikan
Undang-undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 ayat 2
menyatakan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan
Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap
terhadap tuntutan zaman. Sehingga di dalam penentuan tujuan dan proses
pelaksanaannya, pendidikan di Indonesia harus selalu berakar pada budaya atau
karakter nasional dan disisi lain pendidikan juga harus mampu memenuhi tuntutan
jaman, apalagi di era globalisasi yang menuntut high skilled labor (tenaga
berketerampilan tinggi) yang bisa diterima oleh pasar global. Oleh karena itu,
orientasi pendidikan harus selalu merujuk pada dua hal penting yaitu melestarikan
karakter nasional dan menciptakan lulusan yang dapat bersaing secara kompetitif
di pasar global atau mencetak manusia yang bertindak lokal dan berpikir global.
Peran
sekolah adalah sebagai pewaris, pemelihara, dan pembaharu kebudayaan. Kartono (1977)
menyatakan bahwa sekolah hendaknya dapat dijadikan sebagai:
19
Guru
bekerja sama dengan peserta didik meningkatkan kesadaran dengan menterjemahkan
konsep budaya dengan cara berbeda. Guru mengarahkan ke konsep pusat kebudayaan
dengan mempersiapkan dan motivasi belajar diantara peserta didik untuk sadar
akan kenyataan dan berbekal belajar sebagai alat mendekati dunia kerja.
Pergerakan multikultural meyakinkan bidang pendidikan sebagai suatu kebutuhan
dengan model budaya yang konsisten. Mangunwijaya menyatakan bahwa proses
pendidikan memiliki dua aspek yang saling mengisi, yaitu sebagai proses
hominisasi dan proses humanisasi (Tilaar, 2004).
a.
Hominisasi
Pendidikan
sebagai proses hominisasi melihat manusia sebagai mahluk hidup di dalam dunia
dan ekologinya. Proses hominisasi tersebut manusia memerlukan kebutuhan
biologis seperti makan, beranak pinak, memerlukan pemukiman, dan pekerjaan
untuk menopang kehidupan. Proses hominisasi memenuhi kebutuhan manusia sebagai
mahluk biologis. Pendidikan harus mampu menghasilkan output kompetitif yang
mampu bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dalam menopang kehidupannya yang lebih
baik secara ekonomis dan sosial. Pendidikan harus memiliki orientasi
intelektual yang dibutuhkan manusia untuk bersaing secara kompetitif sehingga
mereka dapat diterima pasar, terlebih dalam era global yang lebih
berasaskan knowledge based economy.
b.
Humanisasi
Pendidikan
melihat manusia sebagai mahluk yang bermoral (human being). Mahluk yang
bermoral berarti bahwa manusia bukan hanya sekedar hidup tetapi hidup untuk
mewujudkan eksistensi, yaitu bahwa manusia hidup bersama-sama dengan sesama
manusia sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa.
20
Proses
humanisasi tingkah laku manusia diarahkan kepada nilai-nilai kehidupan yang
vertikal di dalam kenyataan hidup bersama dengan manusia lain. Nilai-nilai
luhur tersebut, apakah diwahyukan ataupun yang dipelihara di dalam kehidupan
bersama manusia karena disepakati, dapat mengikat kehidupan bersama nenuju
suatu cita-cita bersama, yaitu kehidupan yang lebih baik, lebih tenteram, dan
berkeadilan.
Hal-hal
tersebut dijalin dan terjalin di dalam nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat
atau suatu kelompok hidup bersama manusia. Proses humanisasi mencapai puncaknya
pada seseorang yang berpendidikan dan berbudaya (educated and civilized
human being).
4.
Kebudayaan dan pendidikan
Kebudayaan adalah cara hidup yang telah dikembangkan oleh
anggota-anggota masyarakat (Imran Manan, 1989). Lima komponen kebudayaan, yaitu
:
21
Kebudayaaan dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu :
Tiga hal yang menimbulkan perubahan kebudayaan, yaitu :
22
Pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Bila kebudayaan berubah maka
pendidikan juga bisa berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah
kebudayaan. Pendidikan adalah suatu proses membuat orang kemasukan budaya,
membuat orang berprilaku mengikuti budaya yang memasuki dirinya. Sekolah
sebagai salah satu dari tempat enkulturasi suatu budaya sesungguhnya merupakan
bahan masukan bagi anak dalam mengembangkan dirinya. Antara pendidikan dan
kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan
dengan suatu hal yang sama yaitu nilai-nilai. Pendidikan membuat orang
berbudaya, pendidikan dan budaya bersama dan memajukan. Makin banyak orang
menerima pendidikan makin berbudaya orang itu dan makin tinggi kebudayaan makin
tinggi pula pendidikan atau cara mendidiknya.
5.
Masyarakat
dan sekolah
Lembaga pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat itu
sendiri. Antara lembaga pendidikan dan masyarakat terjadi hubungan timbal
balik. Pendidikan atau sekolah memberi manfaat kepada masyarakat begitu pula
masyarakat memberikan dukungannya kepada sekolah. Manfaat pendidikan bagi
masyarakat adalah :
23
Konsep pendidikan mengangkat derajat manusia sebagai makhluk budaya
yaitu makhluk yang diberkati kemampuan untuk menciptakan nilai kebudayaan dan
fungsi budaya dan pendidikan adalah kegiatan melontarkan nilai-nilai kebudayaan
dari generasi ke generasi.
Kebudayaan masyarakat jika dikaitkan dengan pendidikan maka ditemukan
sejumlah konsep pendidikan :
24
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Biologi
adalah salah satu landasan ilmu yang dipakai di dalam dunia pendidikan.
Pesatnya perkembangan biologi dapat memberikan dampak yang positif bagi banyak
orang, khususnya kaum intelektual. Kaum yang sangat membutuhkan ilmu dan
mengharapkan adanya perkembangan ilmu itu sendiri guna untuk mewujudkan
cita-cita bangsa Indonesia. Landasan biologi pendidikan adalah asumsi-asumsi
yang bersumber dari kaidah-kaidah biologi yang dijadikan titik tolak dalam
pendidikan. Biologi memiliki dasar yang modern, seperti: teori sel, evolusi,
genetika, homeostasis, dan energi. Cabang-cabang biologi sangat banyak sekali,
cabang tersebut sudah dikelompokkan sesuai dengan jenisnya masing-masing agar
dalam proses pengajaran materi yang disampaikan fokus pada satu pembahasan
saja.
Sosial
budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat dengan kehidupan
sehari-hari. Setiap kegiatan manusia hampir tidak pernah lepas dari unsur
sosial budaya. Kebudayaan bersifat stabil tetapi dapat berubah, perubahan
diukur dari elemen yang relatif stabil dan stabilitas diukur dari elemen budaya
yang berubah dengan cepat.
B. Saran
a.
Gemarlah membaca buku
tentang ilmu biologi
b.
Kuasai ilmu-ilmu yang
diterapkan dalam biologi dan sosial budaya
c.
Terapkanlah kehidupan
sosial dalam pendidikan
25
DAFTAR
PUSTAKA
hadirukiyah.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar