Senin, 09 Desember 2019

Summary Of Chairul Tanjung Book


Nama : Pebri Yuni Br Hutabarat (1888203024)
Kelas : 3.1 Pendidikan Bahasa Inggris
Mata kuliah : Entrepreneurship

“CHAIRUL TANJUNG”


1.        BAB 1 “AKU ADALAH ANAK SINGKONG”
Anak singkong merupakan arti dari anak yang lahir dan bertempat tinggal dipinggiran kota Jakarta yang sangat kecil dan kumuh. Namun, seiring berjalannya waktu sebutan itu sudah jarang digunakan pada diri Chairul Tanjung karena sebagian orang justru sangat menghormatinya. Disiplin, gigih, dan tangung jawab adalah konsep hidup yang benar-benar dipegang teguh oleh Chairul Tanjung. Itu bermula saat masih berada di Sekolah Dasar, Chairul tanjung dan teman-temannya pernah diberikan tugas untuk berjualan oleh gurunya. Mereka ditugaskan untuk menjual es mambo, kacang, dan jajanan lainnya pada jam istirahat. Kemudian, setelah jam istirahat selesai mereka ditugaskan untuk memberikan hasil laporan penjualannya. Dari hal itulah Chairul Tanjung belajar sesuatu dan sampai sekarang menjadi salah satu pedoman hidupnya, yaitu menjaga kepercayaan itu sangat penting, dan untuk menjaga kepercayaan tersebut, kita harus bisa memegang tanggung jawab. Pedoman tersebut mengantarkan Chairul Tanjung pada kesuksesan dalam berbisnis, diantaranya pada bagian finansial, dia memiliki Bank Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi Finance, Bank Mega Syariah, dan masih banyak lagi. Untuk bisnis dibidang investasi, pada awal 2010, Trans Corp membeli sebagian besar saham Carrefour Indonesia, yaitu mencapai 40% dengan MOU (memorandum of understanding). Untuk bidang penyiaran dan multimedia yaitu Trans TV, Trans7, Mahagaya Perdana, Trans Fasion, Trans Lifestyle, dan Trans Studio. Ada pembelajaran yang bisa kita ambil dari si anak singkong tersebut, yaitu “jangan salahkan dimana kamu tinggal, namun belajarlah darimana kamu tinggal. Setelah itu, potensi yang dimiliki langsung kembangkan!”.

2.        BAB 2 “KELUARGAKU TERCINTA”
Menurut Chairul Tanjung langkah awal untuk menuntaskan kemiskinan adalah pendidikan. Sejak awal kuliah ia sudah memantapkan hatinya bahwa ia harus jadi orang besar. Hal itu terbesit dalam benaknya karena melihat perjuangan orangtuanya membiayai kehidupan mereka. Mulai dari ibunya yang menggadaikan kain halus kesayangannya untuk membiayai uang masuk kuliah, ayahnya bangkrut karena semua Koran hasil karya ayah Chairul Tanjung dihancurkan, ia yang sudah terbiasa hidup berpindah-pindah karena pasang surut ekonomi, sampai akhirnya ia harus kehilangan ayahnya. Ayah dan ibunya memiliki peran penting dalam pembentukan karakter Chairul Tanjung. Melihat ayahnya yang berusaha mencari uang untuk membayar zakat keluarga dimalam takbiran membuat dia memiliki prinsip jika kita memiliki tenaga dan harapan, haram hukumnya untuk mengemis atau meminta-minta hanya demi mencukupi kebutuhan hidup. Setelah memiliki kesuksesanpun Chairul Tanjung masih menunjukkan cinta kasihnya kepada ibunya. Hal itu terlihat pada tahun 1995. Saat ia masih berusia 33 tahun, ibunya ingin melakukan ibadah haji. Chairul Tanjung menemani ibunya dan mendapatkan pelajaran penting ketika mendengar kisah Salman Al-Farisi yang menggendong ibunya mulai dari awal sampai akhir ibadah haji. Chairul Tanjung adalah orang besar yang masih menyayangi keluarganya terutama ibunya.

3.        BAB 3 “BELAJAR TIDAK HARUS BERADA DIRUANG KELAS”
Chairul Tanjung menganggap bahwa belajar tidak harus berada diruang kelas saja. Ini terbukti oelhnya saat SMP dia belajar seni teater bersama teman-temannya, Pernah mengamen bersama teman-temannya, ia membuat bisnis berbau hiburan dengan membuat saluran TV sendiri yaitu Trans TV, dan saat berada dibangku SMA ia berusaha membentuk karakter dalam berbisnis dalam dirinya dengan melakukan negosiasi harga terhadap tambang yang ingin dibeli bersama temannya untuk mendapatkan pengurangan harga dan sisa dari uang yang dimiliki di gunakan untuk membeli es shangsai hitung-hitung uang jasa mereka. Dari semua pengalaman itu, Chairul Tanjung melewatinya dengan mengambil banyak pelajaran terutama dalam bidang bisnis. Teater mengajarkan dia untuk melakukan meditasi dengan tujuan supaya mereka tidak menjadi pribadi yang mudah lupa, menjadi lebih bijaksan dan tenang ketika marah. Teater juga mengajarkan untuk lebih kritis karena mereka selalu berdiskusi hal-hal berat. Pengalaman mengamennya berasal dari belajar teater yang membuat dia dan teman-temannya pandai dalam mengolah uang serta berbagi kebaikan dari hasil yang mereka dapatkan. Bisnis saluran TV yang ia bangun juga berhasil  digunakannya untuk berbagi semangat hidup seperti program “Orang Pinggiran” dan “Jika Aku Menjadi”. Dan pengalaman ketika dia berusaha bernegosiasi dengan penjual tambangpun membuat dia belajar melatih peran dunia bisnis dalam dirinya.
Namun dibalik semua itu, ia masih selalu mengingat teman-teman seperjuangannya meskipun sudah tidak dalam ruang lingkup yang sama. Baginya, selama masih bisa berdiri, berbicara dan bernafas, teruslah bergerak. Jangan berdiam diri hanya untuk meratapi nasib. Dari pengalaman-pengalaman tersebut Chairul Tanjung membuktikan bahwa peluang bisa diciptakan, dan cara menciptakan peluang adlaah dengan kepekaan. Melatih kepekaan cukup dengan percaya terhadap kemampuan diri.

4.        BAB 4 “TUNAS JIWA BISNIS YANG MULAI TUMBUH”
Tunah jiwa bisnis Chairul Tanjung semakin terlihat dan berkembang saat dia kuliah. Dimulai dari tugas yang diberikan dosen untuk memiliki buku praktik membuat gigi tiruan mengajarkan ia untuk lebih kritis melihat peluang yang ada. Yang semulanya ia mendapakat untung Rp.15.000 sampai dengan jutaan rupiah dari uaha fotocopy nya. Hal itulah yang membuat ia dikenal sebagai juragan fotocopy. Ia juga menjadi terkenal dilingkungan kampus karena sikap dia yang menjadikan semua orang teman tanpa pandang bulu. Tidak hanya menjadi juragan fotocopy, ia juga melihat peluang lain di kampusnya. Dengan jurusan yang ada, ia berusaha membantu teman-temannya memenuhi kebutuhan kuliah dan tidak lupa sekaligus berbisnis. Bisnis yang ia lakukan sangat membantu teman-temannya sehingga tidak sedikit teman-temannya yang mendukung dia. Dari hal itu kita dapat belajar bahwa kesuksesan kita ditentukan dari apa yang kita pelajari sekarang , dan lingkungan adalah salah satu media kita untuk belajar.

5.        BAB 5 “MAHASISWA TELADAN”
Chairul Tanjung juga memiliki peran penting dalam kampusnya. Ia pernah dijuluki sebagai mahasiswa teladan ketika ia dan teman-temannya menang dalam sebuah lomba presentasi  dalam rangka hari Kemerdekaan Indonesia ke-39 dan melakukan perjuangan menolah Rektor baru UI pada saat itu. Jika bertanya apa modal Chairul Tanjung, ia akan menjawab “ Modal saya hanya bahasa, hanya suara”. Ia mengatakan bahwa jika ingin menjadi pengusaha besar harus pintar menjalin relasi sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Tidak seorangpun yang tidak mengalami kegagalan dalam hidupnya. Begitupun dengan Chairul Tanjung. Pada tahun 1984, ia mengalami kebangkrutan.
Namun, tidak Chairul Tanjung namanya jika tidak bisa bangkit kembali. Ia berusaha membuka bisnis baru dibidang jual beli mobil bekas bersama beberapa teman-temannya yang awalnya 10 orang namun lambat laun satu persatu hilang hingga menyisahkan 3 orang saja termasuk dirinya. Namun itu semua tidak membuat Chairul Tanjung berhenti bergelut didunia bisnis. Justrun ia semakin bersemangat sampai akhirnya keadaannya kembali membaik.

6.        BAB 6 “BENIH USAHA”
Chairul Tanjung lulus dari FKG-UI pada tahun 1987. Sejak saat itu ia mulai bimbang antara memilih menerapkan ilmunya berdasarkan gelar yang sudah ia dapat atau emilihi untuk melanjutkan mimpinya didunia bisnis. Keputusan yang ia ambil tidak terlepasn dari arahan-arahan orang-orang sekitarnya. Ia memilih untuk melanjutkan dunianya dibidang bisnis. Pada saat itu Cahirul Tanjung ditawari oleh seseorang pinjaman dari bank sebesar 300 juta. Bisnis pertama yang ia geluti adalah bisnis ekspor sepatu meskipun bisnis tersebut bukan murni bisnis pertama yang ia jalankan. Menjadi seorang kontraktor dalam pembangunan sebuah pabrik sumpit merupakan bisnis pertama yang ingin ia jalankan. Namun bisnis tersebut mengalami kegagalan hingga akhirnya ia berhasil pada kesempatan kedua yaitu membangun pabrik sepatu miliknya sendiri dan setelah dua tahun ia memutuskan untuk memulai hidup baru dengan menikai Anita Ratnasari pujaan hatinya yang juga merupakan adik tingkatnya di FKG-UI. Dari sinilah kita belajar bahwa apabila seorang pengusaha ingin membuat hal yang besar, maka diperlukan persiapan yang matang dan besar pula.

7.        BAB 7 “PUJAAN HATI”
Chairul Tanjung dan Anita menikah pada pada tahun 1994. Latar belakang dan usia yang cukup jauh berbea membuat mereka memiliki pemahaman yang baik satu sama lain. Mereka dikaruniai anak pertama pada tahun 1996. Dan setelah melahirkan anak kedua, Anita dan Chairul sepakat untuk memfokuskan Anita kepada anak-anak mereka dan membangun sekolah Duta Bangsa. Kehidupan mereka yang sudah mapan tidak membuat Chairul berubah dari kebiasaannya yang sangat menikmati proses pekerjaannya dalam dunia bisnis.


8.        BAB 8 “GEBRAKAN SOSIAL YANG TERUS BERKEMBANG”
Chairul Tanjung tidak hanya dikenal sebagai sosok wirausahawan yang gigih, namun ia juga merupakan manusia dengan jiwa sosial yang sangat tinggi. Kepeduliannya terhadap permasalahan sosial sudah terlihat dari peran aktifnya dalam beberapa kegiatan sejak ia menjadi mahasiswa FKG-UI. Pemberian sumbangan kepada korban bencana Tasikmalaya, penyuluhan dan pengobatan gigi, seminar talasemia, dan kegiatan sosial di Timor Timur menunjukkan kepeduliannya terhadap sosial. Hal itu mengajarkan kita bahwa menjadi seorang pebisnis kita juga harus memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi karena kesuksesan kita tidak terlepas dari apa yang kita lakukan terhadap lingkungan kita.

9.        BAB 9 “MENGHADAPI KRISIS MONETER”
Kepedulian Chairul Tanjung terhadap sosial membuat ia dan teman-temannya membangun sebuah yayasan yang bernama KKI atau Komite Kemanusiaan Indonesia. Pendirian yayasan ini ternyata bersamaan dengan adanya krisis moneter di Asia pada tahun 1997. Dengan adanya yayasan ini, Chairul Tanjung beserta teman-temannya berusaha membantu masyarakat dengan memberikan bantuan-bantuan berupa dana kepada setiap kelurahan untuk digunakan sebaik mungkin demi kesejahteraan masyarakat. Mereka juga membuat sebuah program yang bernama We Care Indonesia atau WCR untuk membantu masyarakat dalam menghadapi krisis moneter pada saat itu. KKI bekerja diluar pemerintahan dan menanggulangi krisis secara riil dengan terjun langsung ke lapangan.

10.    BAB 10 “USAHA TIADA HENTI”
Pada tahun 1995, Chairul Tanjung mendapatkan penawaran untuk menolong Bank Mega yang sedang berada pada keadaan buruk. Dengan segenap kerja keras Chairul Tanjung beserta Para Multi Finance, Mereka berhasil mengembalikan keadaan Bank Mega menjadi lebih baik dengan pemikiran-pemikiran mereka yang kritis terhadap bisnis. Meskipun sempat mengalami kegegalan karena krisis moneter, mereka mampu mengembalikan keadaan Bank Mega bahkan mengembangkannya menjadi Bank Syariah kedua di Indonesia. Hal itu tentu saja tidak terlepas dari keputusan dan kerjasama Cahirul Tanjung beserta Para Multi Finance nya sebagai perwujudan keberhasilan mereka dalam dunia bisnis.

11.    BAB 11 “MEMBANGUN DARI NOL”
Sejarah Trans TV dimulai pada tahun 1994. Pendirian saluran TV yang sangat diinginkan oleh Chairul Tanjung tersebut tidaklah muda. Ia sempat dikecewakan berkali-kali oleh orang yang ingin dijadikannya teman bekerjasama. Namun karena kesabaran dan kegigihan Chairul Tanjung dalam merawat benih yang ia tanam kini telah mampu memberikan hasil yang dapat dirasakan banyak orang. Oleh karena itu ia memberi nama PT.Televisi Tranformasi Indonesia yang kini dikenal sebagai Trans TV sebagai saluran yang mampu memberikan tayangan-tayangan yang bermutu.

12.    BAB 12 “PEMIMPIN SERBA BISA”
Chairul Tanjung adalah sosok pemimpin yang serba bisa. Hal itu terbukti dengan kemampuannya menyelamatkan PBSI dari keterpurukan. Chairul Tanjung yang awalnya menolak permohonan dari pihak PBSI untuk menjadi ketua dalam periode 2001-2005 berlandaskan pada dirinya yang belum pernah bergelut dalam dunia olahraga. Namun dengan segala pertimbangan yang dilakukan, Chairul Tanjung akhirnya bersedia untuk menjadi ketua PBSI dan memperbaiki keadaan PBSI. Meskipun awalnya terlihat mengecewakan, Chairul Tanjung berhasil membuktikan kembali kemampuannya dalam dunia bisnis yang akhirnya PBSI kembali menjadi pusat perhatian dalam bidang olahraga. Bahkan keberhasilan Chairul Tanjung tersebut membuat Carrefour melirik CT Group yang pada akhirnya menjalin kerjasama.

13.    BAB 13 “PEDULI  PENDIDIKAN”
Bencana Tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 membuktikan lebih jelas bagaimana sisik Chairul Tanjung yang sebenarnya. Bencana tersebut menunjukan Chairul Tanjung sebagai sosok yang sangat dermawan. Ia mengerahkan segala usahanya untuk menolong korban bencana tersebut. Dimulai dari ia membuat saluran bantuan melalui saluran Trans TV yang  ia miliki, ia juga meminta bantuan kepada ibu Susi Pudjiastuti sebagai pemilik Susi Air untuk meminjamkan pesawatnya membawa kebutuhan bantuan bagi para korban serta turun langsug ke lapangan membuat Chairul Tanjung menjadi sosok yang dapat dijadikan panutan oleh banyak orang.
Tidak hanya itu, Chairul Tanjung, para rekan kerja dan istrinya pun memberikan bantuan lain sebagai perwujudan kepedulian mereka terhadap generasi bangsa seperti membangun asrama untuk anak-anak, mendirikan SMA, serta membuka peluang seleksi siswa-siswa SMA unggul.

14.    BAB 14 “PERMASALAHAN DI INDONESIA”
Lingkaran kemiskinan di Indonesia membuat sosok Chairul Tanjung memikirkan perubahan di Indonesia. Ia ingin mengubah pola piker dan membantu masyarakat untuk menjadi sosok yang tidak mudah pasrah terhadap keadaan. Selain itu Chairul Tanjung juga sangat prihatin terhadap anak-anak yang kekurangan gizi. Chairul Tanjung memang terkaddang melakukan kegiatan sosial dengan cara membagi-bagikan sedikit rezeki yang ia terima,. Namun, Chairul Tanjung sangat anti memberikan sesuatu kepada mereka tanpa alas an (mengemis). Baginya, jika kita membantu mereka (pengemis), maka itu sama saja kita melupakan martabat dan kehormatan mereka sebagai manusia. Wirausaha yang dilakukan Chairul Tanjung sejak masa kuliahnya merupakan salah satu contoh nyata dimana ia memutus lingkaran kemiskinan. Pada dasarnya, seorang pengusaha itu harus memiliki sifat silaturahmi dan berkomunikasi.

15.    BAB 15 “CT GROUP”
Chairul Tanjung memutuskan untuk membangun sendiri usahanya dan mendirikan Para Group pada tahun 1987. Pada tahun 1996, Para Group sudah berhasil mendapatkan kepemilikan Bank Karman yang kemudian berkembang menjadi bagian dari Bank Mega pada tahun 1997. Chairul Tanjung juga mengerjakan proyek besar berupa Bandung Supermall dan mengakuisisi Bank Tugu menjadi Bank Mega Syariah. Pada tahun 2004, Chairul Tanjung mengubah nama induk usahanya menjadi CT Corp.beberapa perusahaan dan sector-sektor yang berada dibawah kepemimpinan Chairul Tanjung diantaranya: Trans Corporation (Trans Lifestyle, Trans Corpora Media, serta Trans Property), CT Global Resources (PT.Para Inti Energy, PT.Para Energy Investindo, PT.CT Agro, dsb), dan Mega Corporation (PT.Bank Mega Tbk dan PT.Bank Syariah Mega Indonesia).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar