Nama :
Pebri Yuni Br Hutabarat (1888203024)
Kelas :
3.1 Pendidikan Bahasa Inggris
Mata
kuliah : Entrepreneurship
“CHAIRUL TANJUNG”
1.
BAB 1 “AKU ADALAH ANAK SINGKONG”
Anak
singkong merupakan arti dari anak yang lahir dan bertempat tinggal dipinggiran
kota Jakarta yang sangat kecil dan kumuh. Namun, seiring berjalannya waktu
sebutan itu sudah jarang digunakan pada diri Chairul Tanjung karena sebagian
orang justru sangat menghormatinya. Disiplin, gigih, dan tangung jawab adalah
konsep hidup yang benar-benar dipegang teguh oleh Chairul Tanjung. Itu bermula
saat masih berada di Sekolah Dasar, Chairul tanjung dan teman-temannya pernah
diberikan tugas untuk berjualan oleh gurunya. Mereka ditugaskan untuk menjual
es mambo, kacang, dan jajanan lainnya pada jam istirahat. Kemudian, setelah jam
istirahat selesai mereka ditugaskan untuk memberikan hasil laporan
penjualannya. Dari hal itulah Chairul Tanjung belajar sesuatu dan sampai
sekarang menjadi salah satu pedoman hidupnya, yaitu menjaga kepercayaan itu
sangat penting, dan untuk menjaga kepercayaan tersebut, kita harus bisa
memegang tanggung jawab. Pedoman tersebut mengantarkan Chairul Tanjung pada
kesuksesan dalam berbisnis, diantaranya pada bagian finansial, dia memiliki
Bank Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi Finance, Bank Mega Syariah, dan
masih banyak lagi. Untuk bisnis dibidang investasi, pada awal 2010, Trans Corp
membeli sebagian besar saham Carrefour Indonesia, yaitu mencapai 40% dengan MOU
(memorandum of understanding). Untuk bidang penyiaran dan multimedia yaitu
Trans TV, Trans7, Mahagaya Perdana, Trans Fasion, Trans Lifestyle, dan Trans
Studio. Ada pembelajaran yang bisa kita ambil dari si anak singkong tersebut,
yaitu “jangan salahkan dimana kamu tinggal, namun belajarlah darimana kamu
tinggal. Setelah itu, potensi yang dimiliki langsung kembangkan!”.
2.
BAB 2 “KELUARGAKU TERCINTA”
Menurut
Chairul Tanjung langkah awal untuk menuntaskan kemiskinan adalah pendidikan.
Sejak awal kuliah ia sudah memantapkan hatinya bahwa ia harus jadi orang besar.
Hal itu terbesit dalam benaknya karena melihat perjuangan orangtuanya membiayai
kehidupan mereka. Mulai dari ibunya yang menggadaikan kain halus kesayangannya
untuk membiayai uang masuk kuliah, ayahnya bangkrut karena semua Koran hasil
karya ayah Chairul Tanjung dihancurkan, ia yang sudah terbiasa hidup
berpindah-pindah karena pasang surut ekonomi, sampai akhirnya ia harus
kehilangan ayahnya. Ayah dan ibunya memiliki peran penting dalam pembentukan
karakter Chairul Tanjung. Melihat ayahnya yang berusaha mencari uang untuk
membayar zakat keluarga dimalam takbiran membuat dia memiliki prinsip jika kita
memiliki tenaga dan harapan, haram hukumnya untuk mengemis atau meminta-minta
hanya demi mencukupi kebutuhan hidup. Setelah memiliki kesuksesanpun Chairul
Tanjung masih menunjukkan cinta kasihnya kepada ibunya. Hal itu terlihat pada
tahun 1995. Saat ia masih berusia 33 tahun, ibunya ingin melakukan ibadah haji.
Chairul Tanjung menemani ibunya dan mendapatkan pelajaran penting ketika
mendengar kisah Salman Al-Farisi yang menggendong ibunya mulai dari awal sampai
akhir ibadah haji. Chairul Tanjung adalah orang besar yang masih menyayangi
keluarganya terutama ibunya.
3.
BAB 3 “BELAJAR TIDAK HARUS BERADA DIRUANG KELAS”
Chairul
Tanjung menganggap bahwa belajar tidak harus berada diruang kelas saja. Ini
terbukti oelhnya saat SMP dia belajar seni teater bersama teman-temannya,
Pernah mengamen bersama teman-temannya, ia membuat bisnis berbau hiburan dengan
membuat saluran TV sendiri yaitu Trans TV, dan saat berada dibangku SMA ia berusaha
membentuk karakter dalam berbisnis dalam dirinya dengan melakukan negosiasi
harga terhadap tambang yang ingin dibeli bersama temannya untuk mendapatkan
pengurangan harga dan sisa dari uang yang dimiliki di gunakan untuk membeli es
shangsai hitung-hitung uang jasa mereka. Dari semua pengalaman itu, Chairul
Tanjung melewatinya dengan mengambil banyak pelajaran terutama dalam bidang
bisnis. Teater mengajarkan dia untuk melakukan meditasi dengan tujuan supaya
mereka tidak menjadi pribadi yang mudah lupa, menjadi lebih bijaksan dan tenang
ketika marah. Teater juga mengajarkan untuk lebih kritis karena mereka selalu
berdiskusi hal-hal berat. Pengalaman mengamennya berasal dari belajar teater
yang membuat dia dan teman-temannya pandai dalam mengolah uang serta berbagi
kebaikan dari hasil yang mereka dapatkan. Bisnis saluran TV yang ia bangun juga
berhasil digunakannya untuk berbagi
semangat hidup seperti program “Orang Pinggiran” dan “Jika Aku Menjadi”. Dan
pengalaman ketika dia berusaha bernegosiasi dengan penjual tambangpun membuat
dia belajar melatih peran dunia bisnis dalam dirinya.
Namun
dibalik semua itu, ia masih selalu mengingat teman-teman seperjuangannya
meskipun sudah tidak dalam ruang lingkup yang sama. Baginya, selama masih bisa
berdiri, berbicara dan bernafas, teruslah bergerak. Jangan berdiam diri hanya
untuk meratapi nasib. Dari pengalaman-pengalaman tersebut Chairul Tanjung
membuktikan bahwa peluang bisa diciptakan, dan cara menciptakan peluang adlaah
dengan kepekaan. Melatih kepekaan cukup dengan percaya terhadap kemampuan diri.
4.
BAB 4 “TUNAS JIWA BISNIS YANG MULAI TUMBUH”
Tunah
jiwa bisnis Chairul Tanjung semakin terlihat dan berkembang saat dia kuliah.
Dimulai dari tugas yang diberikan dosen untuk memiliki buku praktik membuat
gigi tiruan mengajarkan ia untuk lebih kritis melihat peluang yang ada. Yang
semulanya ia mendapakat untung Rp.15.000 sampai dengan jutaan rupiah dari uaha
fotocopy nya. Hal itulah yang membuat ia dikenal sebagai juragan fotocopy. Ia
juga menjadi terkenal dilingkungan kampus karena sikap dia yang menjadikan
semua orang teman tanpa pandang bulu. Tidak hanya menjadi juragan fotocopy, ia
juga melihat peluang lain di kampusnya. Dengan jurusan yang ada, ia berusaha
membantu teman-temannya memenuhi kebutuhan kuliah dan tidak lupa sekaligus
berbisnis. Bisnis yang ia lakukan sangat membantu teman-temannya sehingga tidak
sedikit teman-temannya yang mendukung dia. Dari hal itu kita dapat belajar
bahwa kesuksesan kita ditentukan dari apa yang kita pelajari sekarang , dan
lingkungan adalah salah satu media kita untuk belajar.
5.
BAB 5 “MAHASISWA TELADAN”
Chairul
Tanjung juga memiliki peran penting dalam kampusnya. Ia pernah dijuluki sebagai
mahasiswa teladan ketika ia dan teman-temannya menang dalam sebuah lomba
presentasi dalam rangka hari Kemerdekaan
Indonesia ke-39 dan melakukan perjuangan menolah Rektor baru UI pada saat itu.
Jika bertanya apa modal Chairul Tanjung, ia akan menjawab “ Modal saya hanya
bahasa, hanya suara”. Ia mengatakan bahwa jika ingin menjadi pengusaha besar
harus pintar menjalin relasi sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya. Tidak
seorangpun yang tidak mengalami kegagalan dalam hidupnya. Begitupun dengan
Chairul Tanjung. Pada tahun 1984, ia mengalami kebangkrutan.
Namun,
tidak Chairul Tanjung namanya jika tidak bisa bangkit kembali. Ia berusaha
membuka bisnis baru dibidang jual beli mobil bekas bersama beberapa
teman-temannya yang awalnya 10 orang namun lambat laun satu persatu hilang
hingga menyisahkan 3 orang saja termasuk dirinya. Namun itu semua tidak membuat
Chairul Tanjung berhenti bergelut didunia bisnis. Justrun ia semakin
bersemangat sampai akhirnya keadaannya kembali membaik.
6.
BAB 6 “BENIH USAHA”
Chairul
Tanjung lulus dari FKG-UI pada tahun 1987. Sejak saat itu ia mulai bimbang
antara memilih menerapkan ilmunya berdasarkan gelar yang sudah ia dapat atau
emilihi untuk melanjutkan mimpinya didunia bisnis. Keputusan yang ia ambil
tidak terlepasn dari arahan-arahan orang-orang sekitarnya. Ia memilih untuk
melanjutkan dunianya dibidang bisnis. Pada saat itu Cahirul Tanjung ditawari
oleh seseorang pinjaman dari bank sebesar 300 juta. Bisnis pertama yang ia
geluti adalah bisnis ekspor sepatu meskipun bisnis tersebut bukan murni bisnis
pertama yang ia jalankan. Menjadi seorang kontraktor dalam pembangunan sebuah
pabrik sumpit merupakan bisnis pertama yang ingin ia jalankan. Namun bisnis
tersebut mengalami kegagalan hingga akhirnya ia berhasil pada kesempatan kedua
yaitu membangun pabrik sepatu miliknya sendiri dan setelah dua tahun ia
memutuskan untuk memulai hidup baru dengan menikai Anita Ratnasari pujaan
hatinya yang juga merupakan adik tingkatnya di FKG-UI. Dari sinilah kita
belajar bahwa apabila seorang pengusaha ingin membuat hal yang besar, maka
diperlukan persiapan yang matang dan besar pula.
7.
BAB 7 “PUJAAN HATI”
Chairul
Tanjung dan Anita menikah pada pada tahun 1994. Latar belakang dan usia yang
cukup jauh berbea membuat mereka memiliki pemahaman yang baik satu sama lain.
Mereka dikaruniai anak pertama pada tahun 1996. Dan setelah melahirkan anak
kedua, Anita dan Chairul sepakat untuk memfokuskan Anita kepada anak-anak
mereka dan membangun sekolah Duta Bangsa. Kehidupan mereka yang sudah mapan
tidak membuat Chairul berubah dari kebiasaannya yang sangat menikmati proses
pekerjaannya dalam dunia bisnis.
8.
BAB 8 “GEBRAKAN SOSIAL YANG TERUS BERKEMBANG”
Chairul
Tanjung tidak hanya dikenal sebagai sosok wirausahawan yang gigih, namun ia
juga merupakan manusia dengan jiwa sosial yang sangat tinggi. Kepeduliannya
terhadap permasalahan sosial sudah terlihat dari peran aktifnya dalam beberapa
kegiatan sejak ia menjadi mahasiswa FKG-UI. Pemberian sumbangan kepada korban
bencana Tasikmalaya, penyuluhan dan pengobatan gigi, seminar talasemia, dan
kegiatan sosial di Timor Timur menunjukkan kepeduliannya terhadap sosial. Hal
itu mengajarkan kita bahwa menjadi seorang pebisnis kita juga harus memiliki
rasa kepedulian sosial yang tinggi karena kesuksesan kita tidak terlepas dari
apa yang kita lakukan terhadap lingkungan kita.
9.
BAB 9 “MENGHADAPI KRISIS MONETER”
Kepedulian
Chairul Tanjung terhadap sosial membuat ia dan teman-temannya membangun sebuah
yayasan yang bernama KKI atau Komite Kemanusiaan Indonesia. Pendirian yayasan
ini ternyata bersamaan dengan adanya krisis moneter di Asia pada tahun 1997.
Dengan adanya yayasan ini, Chairul Tanjung beserta teman-temannya berusaha
membantu masyarakat dengan memberikan bantuan-bantuan berupa dana kepada setiap
kelurahan untuk digunakan sebaik mungkin demi kesejahteraan masyarakat. Mereka
juga membuat sebuah program yang bernama We Care Indonesia atau WCR untuk
membantu masyarakat dalam menghadapi krisis moneter pada saat itu. KKI bekerja
diluar pemerintahan dan menanggulangi krisis secara riil dengan terjun langsung
ke lapangan.
10. BAB
10 “USAHA TIADA HENTI”
Pada
tahun 1995, Chairul Tanjung mendapatkan penawaran untuk menolong Bank Mega yang
sedang berada pada keadaan buruk. Dengan segenap kerja keras Chairul Tanjung
beserta Para Multi Finance, Mereka berhasil mengembalikan keadaan Bank Mega
menjadi lebih baik dengan pemikiran-pemikiran mereka yang kritis terhadap
bisnis. Meskipun sempat mengalami kegegalan karena krisis moneter, mereka mampu
mengembalikan keadaan Bank Mega bahkan mengembangkannya menjadi Bank Syariah
kedua di Indonesia. Hal itu tentu saja tidak terlepas dari keputusan dan
kerjasama Cahirul Tanjung beserta Para Multi Finance nya sebagai perwujudan
keberhasilan mereka dalam dunia bisnis.
11. BAB
11 “MEMBANGUN DARI NOL”
Sejarah
Trans TV dimulai pada tahun 1994. Pendirian saluran TV yang sangat diinginkan
oleh Chairul Tanjung tersebut tidaklah muda. Ia sempat dikecewakan berkali-kali
oleh orang yang ingin dijadikannya teman bekerjasama. Namun karena kesabaran
dan kegigihan Chairul Tanjung dalam merawat benih yang ia tanam kini telah
mampu memberikan hasil yang dapat dirasakan banyak orang. Oleh karena itu ia
memberi nama PT.Televisi Tranformasi Indonesia yang kini dikenal sebagai Trans
TV sebagai saluran yang mampu memberikan tayangan-tayangan yang bermutu.
12. BAB
12 “PEMIMPIN SERBA BISA”
Chairul
Tanjung adalah sosok pemimpin yang serba bisa. Hal itu terbukti dengan
kemampuannya menyelamatkan PBSI dari keterpurukan. Chairul Tanjung yang awalnya
menolak permohonan dari pihak PBSI untuk menjadi ketua dalam periode 2001-2005
berlandaskan pada dirinya yang belum pernah bergelut dalam dunia olahraga.
Namun dengan segala pertimbangan yang dilakukan, Chairul Tanjung akhirnya
bersedia untuk menjadi ketua PBSI dan memperbaiki keadaan PBSI. Meskipun
awalnya terlihat mengecewakan, Chairul Tanjung berhasil membuktikan kembali
kemampuannya dalam dunia bisnis yang akhirnya PBSI kembali menjadi pusat
perhatian dalam bidang olahraga. Bahkan keberhasilan Chairul Tanjung tersebut
membuat Carrefour melirik CT Group yang pada akhirnya menjalin kerjasama.
13. BAB
13 “PEDULI PENDIDIKAN”
Bencana
Tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 membuktikan lebih jelas
bagaimana sisik Chairul Tanjung yang sebenarnya. Bencana tersebut menunjukan
Chairul Tanjung sebagai sosok yang sangat dermawan. Ia mengerahkan segala
usahanya untuk menolong korban bencana tersebut. Dimulai dari ia membuat
saluran bantuan melalui saluran Trans TV yang
ia miliki, ia juga meminta bantuan kepada ibu Susi Pudjiastuti sebagai
pemilik Susi Air untuk meminjamkan pesawatnya membawa kebutuhan bantuan bagi
para korban serta turun langsug ke lapangan membuat Chairul Tanjung menjadi
sosok yang dapat dijadikan panutan oleh banyak orang.
Tidak
hanya itu, Chairul Tanjung, para rekan kerja dan istrinya pun memberikan
bantuan lain sebagai perwujudan kepedulian mereka terhadap generasi bangsa
seperti membangun asrama untuk anak-anak, mendirikan SMA, serta membuka peluang
seleksi siswa-siswa SMA unggul.
14. BAB
14 “PERMASALAHAN DI INDONESIA”
Lingkaran
kemiskinan di Indonesia membuat sosok Chairul Tanjung memikirkan perubahan di
Indonesia. Ia ingin mengubah pola piker dan membantu masyarakat untuk menjadi
sosok yang tidak mudah pasrah terhadap keadaan. Selain itu Chairul Tanjung juga
sangat prihatin terhadap anak-anak yang kekurangan gizi. Chairul Tanjung memang
terkaddang melakukan kegiatan sosial dengan cara membagi-bagikan sedikit rezeki
yang ia terima,. Namun, Chairul Tanjung sangat anti memberikan sesuatu kepada
mereka tanpa alas an (mengemis). Baginya, jika kita membantu mereka (pengemis),
maka itu sama saja kita melupakan martabat dan kehormatan mereka sebagai
manusia. Wirausaha yang dilakukan Chairul Tanjung sejak masa kuliahnya
merupakan salah satu contoh nyata dimana ia memutus lingkaran kemiskinan. Pada
dasarnya, seorang pengusaha itu harus memiliki sifat silaturahmi dan berkomunikasi.
15. BAB
15 “CT GROUP”
Chairul Tanjung
memutuskan untuk membangun sendiri usahanya dan mendirikan Para Group pada
tahun 1987. Pada tahun 1996, Para Group sudah berhasil mendapatkan kepemilikan
Bank Karman yang kemudian berkembang menjadi bagian dari Bank Mega pada tahun
1997. Chairul Tanjung juga mengerjakan proyek besar berupa Bandung Supermall
dan mengakuisisi Bank Tugu menjadi Bank Mega Syariah. Pada tahun 2004, Chairul
Tanjung mengubah nama induk usahanya menjadi CT Corp.beberapa perusahaan dan
sector-sektor yang berada dibawah kepemimpinan Chairul Tanjung diantaranya:
Trans Corporation (Trans Lifestyle, Trans Corpora Media, serta Trans Property),
CT Global Resources (PT.Para Inti Energy, PT.Para Energy Investindo, PT.CT
Agro, dsb), dan Mega Corporation (PT.Bank Mega Tbk dan PT.Bank Syariah Mega
Indonesia).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar